Sabtu, 25 Januari 2014

Pengumpulan Data, Tindakan dan Refleksi Pada Penelitian Tindakan Kelas

1.      TEKNIK PENGUMPULAN DATA PADA PTK

A.    Jenis-jenis Data dalam Penelitian
Di dalam kegiatan penelitian, keberadaan data merupakan komponen yang sangat penting, karena seperti apapun penelitian yang dirancang oleh peneliti tujuannya adalah untuk memperoleh data. Jika kita kaji dan kita pilah secara cermat, maka kita akan menemukan beberapa jenis data.  Kerlinger (1993) mengemukakan bahwa pemahaman terhadap jenis data dalam penelitian akan mengarahkan seorang peneliti untuk memilih instrumen yang cocok dengan data yang diinginkannya tersebut. Menurut jenisnya data dalam penelitian dikelompokkan dalam 4 jenis, yaitu data nominal, data ordinal, data interval, dan data ratio (Kerlinger, 1993). Berikut penjelasan dan contoh dari masing-masing jenis data tersebut. 
1.      Data nominal 
Data nominal adalah suatu data yang hanya terpilah menjadi dua bagian atau dua pilihan, atau dua kategori dimana yang satu dengan lainnya terpisah secara tegas (Kerlinger, 1993; Babbie, 1986; Gay, 1981).  Contoh jenis data nominal: 
·         Laki-laki Perempuan
·         Tua   Muda
·         Kota   Desa
·         Ya   Tidak
·         Siang     Malam
·         Sekolah Tidak sekolah
·         Kaya   Miskin
2.      Data ordinal
Data ordinal ialah suatu data yang menunjukkan urutan dalam kedudukan masing-masing data/data urutan peringkat/jenjang yang tidak menunjukkan kuantitas absolut (Kerlinger, 1993). Contoh data ordinal:
·         Peringkat kejuaraan.
·         Urutan angka 1, 2, 3, 4, dan seterusnya.
·         Jenjang pendidikan.
·         Pemeluk agama/keyakinan.
·         Kelompok etnik/suku.
·         Jenis kendaraan.
·         Kelompok makanan.
·         Jenis pekerjaan, dll.
3.      Data interval
Data interval adalah suatu data yang menunjukkan jarak yang memiliki ciri nominal dan ordinal. Di samping itu jarak keangkaan yang sama pada skala interval mewakili jarak yang sama pula dalam hal pemilikan sifat yang diukur.  
Contoh data interval:
a             b          c         d         e 
1             2          3         4         5
a/1  = Tidak pernah                    Sangat tidak setuju
b/2  = Hampir tidak pernah        Tidak setuju
c/3 = Pernah                               Ragu-ragu 
d/4 = Kadang-kadang                            Setuju
e/5  = Selalu                               Sangat setuju
4.      Data ratio
Data ratio/nisbat ialah data pengukuran yang sangat tinggi, yang mempunyai ciri-ciri skala nominal, ordinal, dan interval, dan juga memiliki nol mutlak atau nol natural yang mengandung makna empirik. Jika suatu pengukuran menggunakan nol pada suatu skala rasio, maka dapat dikatakan bahwa obyek tertentu tidak memiliki sifat yang sedang diukur. Angka-angka  pada skala rasio menunjukan besaran sesungguhnya pada sifat yang diukur. Untuk ilmu sosial jarang sekali menggunakan skala rasio.
Contoh data skala rasio 
Skor 8 mempunyai prestasi 2 x lebih baik dari yang mendapatkan skor 4 dalam suatu mata pelajaran (Kerlinger, 1993).
B.     Teknik Pengumpulan Data  Melalui Tes
Untuk memperoleh data  di dalam kegiatan penelitian, seorang peneliti dapat menggunakan berbagai teknik. Penggunaan dari salah satu atau beberapa teknik pengumpulan data sangat tergantung pada jenis data yang akan dikumpulkan, tujuan penelitian dan tentu saja pemahaman peneliti tentang teknik yang akan dipergunakan tersebut serta kemampuannya untuk melaksanakan penelitian dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait. Sebagai contoh, seorang peneliti melakukan penelitian tentang motivasi dan hasil belajar siswa pada beberapa sekolah yang telah ditentukannya. Terkait dengan penelitian tersebut seorang peneliti terlebih dahulu menjelaskan jenis data yang akan dikumpulkan. Untuk mengkaji motivasi siswa, misalnya guru dapat menggunakan beberapa teknik yang dapat dipilih, misalnya observasi, wawancara, atau kuesioner. Untuk menghimpun data tentang hasil belajar siswa, dapat dipergunakan tes yang dibuat peneliti sendiri, peneliti bersama guru, atau menggunakan instrumen tes yang standar. Di samping menggunakan tes, juga dapat mengkaji hasil-hasil belajar, hasil-hasil ulangan siswa yang lebih dikenal dengan teknik studi dokumenter.Dalam pelaksanaan tugas Anda sehari-hari, pelaksanaan tes sebagai cara memahami kemampuan siswa tentu sudah sangat tidak asing bagi Anda.  Namun untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam dan menambah wawasan  tentang cara-cara pengumpulan data melalui tes, maka bagian ini perlu kita kaji bersama dengan lebih cermat.
Teknik tes atau kadang-kadang juga disebut sistem testing merupakan usaha untuk memahami atau memperoleh data tentang siswa. Dalam pandangan lain juga dikemukakan bahwa tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu, dan menggambarkan atau mendeskripsikan  tingkah laku itu melalui skala angka atau sistem kategori. Nurkancana dan Sumartana (1986: 25) mendefinisikan tes sebagai suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau  serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah  laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan. Jika defenisi ini dianalisis, maka kita menemukan beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan yaitu:
1.      Tes adalah suatu bentuk tugas yang terdiri dari sejumlah pertanyaan atau perintah-perintah.
2.      Tes diberikan kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk dikerjakan.
3.      Bahwa respon atau jawaban anak atau kelompok anak tersebut dinilai.
Penggunaan teknik tes, khususnya tes prestasi belajar bagi guru di sekolah bertujuan untuk:
a.       Menilai kemampuan belajar murid.
b.      Memberikan bimbingan belajar kepada murid.
c.       Mengecek kemajuan belajar.
d.      Memahami kesulitan-kesulitan belajar. 
e.       Memperbaiki teknik mengajar.
f.       Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar. 
Arikunto (1988), mengemukakan bahwa tes sebagai instrumen pengumpulan data  dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.      Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun oleh guru dengan prosedur tertentu, akan tetapi belum mengalami uji coba berkali-kali sehingga tidak diketahui ciri-ciri dan kebaikannya.
2.      Tes standar (standardized tes), yaitu tes yang biasanya sudah tersedia di lembaga testing, yang sudah terjamin keampuhannya. Tes ini sudah mengalami uji coba berkali-kali, direvisi berkali-kali sehingga sudah dapat dikatakan cukup baik. Di dalam setiap tes yang terstandar, sudah dicantumkan petunjuk pelaksanaan, waktu yang dibutuhkan, bahan yang tercakup, dan hal-hal lain, misalnya validitas dan reabilitas tes.
Dalam pembahasan tentang bentuk-bentuk tes, Gall & Borg (2002: 209) mengemukakan terdapat beberapa bentuk tes performance, yaitu:
a.       Intelligence tests atau tes intelegensi
b.      Aptitude tests atau tes sikap
c.       Achievement tests atau tes hasil belajar
d.      Diagnostic tests atau tes diagnostik, dan   performance assessment atau penilaian kinerja.
Di antara bentuk tes yang paling sering dipergunakan guru adalah tes hasil belajar. Jika dilihat dari beberapa dimensi atau sudut pandangan, tes hasil belajar sebagai salah satu bentuk yang diarahkan  untuk mengetahui hasil atau prestasi belajar siswa dibedakan atas beberapa jenis. Berdasarkan jumlah atau pengikut tes, maka tes hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu tes individual dan tes kelompok (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 25). Tes individual adalah suatu tes dimana pada saat tes tersebut diberikan kita hanya menghadapi satu orang anak. Sedangkan tes kelompok, yaitu dimana pada saat tes diberikan, kita menghadapi sekelompok anak.  Tes hasil belajar disamping dapat dikaji dari jumlah atau pengikut tes sebagaimana dikemukakan di atas, juga dapat ditinjau dari segi penyusunannya.
Dilihat dari segi penyusunannya tes dibedakan atas tiga jenis, yaitu tes buatan guru, tes buatan orang lain yang tidak distandarisasi, dan tes standar atau tes yang sudahdistandarisasi.
a.       Tes buatan guru, yaitu tes yang disusun sendiri oleh guru yang akan mempergunakan tes tersebut.
b.      Tes buatan orang lain yang tidak distandarisasi, adalah tes yang dibuat orang lain  yang dianggap cukup baik yang dapat dipergunakan oleh guru. Tes jenis  ini misalnya tes yang disusun oleh teman-teman sejawat guru yang lebih  berpengalaman, atau tes yang dimuat pada akhir tiap-tiap bab dari buku pelajaran.
c.       Tes standar atau tes yang telah distandarisasi, yaitu tes yang telah cukup valid  dan reliabel berdasarkan atas uji coba berkali-kali terhadap sampel yang cukup luas dan representatif.
Selain dari sudut pandang di atas, jenis tes hasil belajar juga dapat dikaji dari bentuk jawaban atau bentuk respon. Berdasarkan bentuk jawaban atau bentuk respon ini, tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a.       Tes tindakan, yaitu suatu tes dimana jawaban atau respon yang diminta dari anak berbentuk tingkah laku. Jadi anak berbuat sesuai dengan perintah atau pertanyaan yang diberikan. Misalnya dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, untuk mengetahui apakah seorang anak sudah dapat berenang dengan gaya tertentu, maka cara yang paling baik adalah menyuruh anak tersebut mempraktekkan langsung cara berenang yang dikehendaki. Jika anak dapat melakukan sesuai dengan kriteria yang ditentukan guru, maka berarti anak tersebut telah menguasai tes yang diberikan dalam bentuk tindakan tersebut.
b.      Tes verbal, yaitu suatu tes, dimana jawaban atau respon yang diberikan oleh anak-anak berbentuk bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Dalam keadaan ini, anak akan mengucapkan atau menulis jawabannya sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan.
Selain ditinjau dari bentuk jawaban atau respon yang diberikan, tes juga dapat dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan oleh guru. Bentuk tes ini tentu sudah sangat sering Anda terapkan didalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Jenis tes ini dibedakan menjadi dua, yaitu tes obyektif dan tes essay.
1.      Tes obyektif
Tes obyektif adalah bentuk tes yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih salah satu alternatif yang benar dari sejumlah alternatif yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban dengan beberapa perkataan atau simbul tertentu. Ada beberapa bentuk tes obyektif, yaitu:
a.       Tes benar salah (true-false), adalah tes yang butir-butir soalnya mengharuskan agar siswa mempertimbangkan suatu pernyataan sebagai pernyataan yang benar atau salah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam penyusunan tes obyektif bentuk benar-salah ini:
·         Meyakinkan sepenuhnya bahwa butir soal tersebut dapat dipastikan benar atau salah.
·         Jangan menulis butir soal yang memindahkan satu kalimat secara harfiah dari teks.
·         Jangan menulis butir soal yang memperdayakan.
·         Menghindari pernyataan negatif.
·         Menghindari pernyataan berarti ganda.
·         Menggunakan suatu bentuk yang tepat.
·         Menghindari kata-kata kunci, seperti pada umumnya, semua, dan yang lain.
·         Menghindari jawaban benar yang terpola.
b.      Tes pilihan ganda (multiple choice), adalah suatu item yang terdiri dari suatu statemen yang belum lengkap. Untuk melengkapi statemen tersebut disediakan beberapa statemen sambungan. Satu diantaranya merupakan sambungan yang benar sedangkan yang lain adalah sambungan yang tidak benar (Nurkancana dan Sumartana, 1986; Dimyati dan Mudjiono, 1994). Item multiple choiceini dapat pula berupa suatu pertanyaan yang telah disediakan beberapa buah jawaban, dimana hanya satu dari jawaban-jawaban yang disediakan tersebut merupakan jawaban yang benar. Alternatif pilihan yang disediakan disebut “option”, sedangkan. Jawaban-jawaban atau statemen sambungan yang tidak benar disebut pengecoh. Bloom, 1981 (Dimyati dan Mudjiono, 2004: 200) mengingatkan beberapa kaidah yang harus diperhatikan didalam penyusunan soal pilihan ganda.
a)      Pokok soal (stem) yang merupakan permasalahan harus dirumuskan secara jelas.
b)      Perumusan pokok soal dan alternatif jawaban hendaknya merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
c)      Untuk satu soal, hanya ada satu jawaban yang benar atau yang paling benar.
d)     Sedapat mungkin dihindarkan perumusan pernyataan yang bersifat negatif pada pokok soal.
e)      Alternatif jawaban (option) sebaiknya logis, dan pengecoh harus berfungsi (menarik).
f)       Diusahakan agar tidak ada petunjuk untuk jawaban yang benar.
g)      Diusahakan agar mencegah penggunaan pilhan jawaban yang terakhir berbunyi “semua pilihan jawaban di atas benar”, atau “semua pilihan jawaban di atas salah”.
h)      Diusahakan agar pilihan jawaban homogen, baik dari segi isi maupun panjang pendeknya pertanyaan.
i)        Apabila pilihan jawaban berbentuk angka, susunlah secara berurutan dari angka yang terkecil diletakkan di atas sampai angka terbesar yang diletakkan di bawah.
j)        Di dalam pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang bersifat tidak tentu, seperti seringkali, kadang-kadang, pada umumnya dan kata-kata sejenis.
k)      Diusahakan agar jawaban butir soal yang satu tidak bergantung dari jawaban butir soal yang lain.
l)        Dalam merakit soal diusahakan agar jawaban yang benar (yang menjadi kunci jawaban) letaknya tersebar antara a, b, c, d, atau ditentukan secara acak, sehingga tidak terjadi pola jawaban tertentu.
c.       Tes menjodohkan (Maching), adalah suatu bentuk tes yang biasanya terdiri dari dua kolom yang paralel, dimana masing-masing berisi uraian-uraian, keterangan-keterangan atau statemen. Dengan kata lain merupakan bentuk tes yang butir-butir soalnya terdiri dari satu daftar premis dan satu daftar jawaban yang sesuai (Dimyati dan Mujiono, 2004; Nurkancana, 1986: 36). Dalam penyusunan soal bentuk menjodohkan ini, ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan.
a)      Meyakinkan bahwa pertanyaan dapat dijawab dengan kata atau penggalan kalimat yang mudah atau khusus, dan hanya ada satu jawaban yang benar.
b)      Menggunakan bentuk yang cocok.
c)      Jangan memutus-mutus butir soal melengkapi.
d)     Menghindari pemberian petunjuk ke arah jawaban yang benar.
e)      Menunjukkan bagaimana seharusnya jawaban yang benar.
Tes obyektif sebagai salah satu bentuk teknik pengumpulan data, khususnya berkenaan dengan siswa, memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah:
1.        Dapat dijawab dengan cepat, sehingga memungkinkan siswa menjawab sejumlah besar pertanyaan dalam satu periode tes. Terkait dengan hal ini maka materi tes yang diberikan dapat mencakup lebih luas bahan pelajaran yang disampaikan.
2.        Reliabilitas skor yang diberikan terhadappekerjaan siswa dapat lebih terjamin.
3.        Jawaban-jawaban tes obyektif dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat.
Di samping beberapa kebaikan atau kelebihan tes obyekif sebagaimana dikemukakan di atas, ada juga segi-segi kelemahannya, antara lain:
a.       Kemungkinan siswa untuk menerka jawaban akan lebih besar
b.      Karena jumlah item pada tes obyektif pada umumnya lebih banyak, maka diperlukan biaya yang lebih besar. Anda dapat mengkaji kembali secara seksama tentang beberapa hal berkenaan dengan tes obyektif di atas. Diskusikan dengan rekan-rekan Anda atau tanyalah kepada orang-orang yang dapat membantu memperjelas pemahaman Anda, terutama jika Anda menemukan bagian-bagian dari uraian tersebut yang sulit Anda pahami.

2.      Tes Essay
Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk petanyaan yang mengharuskan siswa untuk menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan atau mencari perbedaan. Semua bentuk pertanyaan mengharuskan siswa untuk mampu menunjukkan pengertian atau pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari (Nurkancana dan Sumartana, 1986: 42). Sebagaimana bentuk tes obyektif, tes bentuk essay juga memiliki kebaikan dan kelemahan. Kebaikannya antara lain:
a.       Tes essay sangat tepat dipergunakan untuk menilai atau mengukur hasil dari suatu proses belajar yang kompleks, yang sukar diukur dengan menggunakan tes obyektif.
b.      Tes essay memberi peluang yang besar kepada siswa untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan pikirannya sendiri. Keadaan ini sangat penting untuk melatih siswa agar terbiasa mengemukakan jalan pikirannya secara terarah dan sistematis.
Sedangkan beberapa kelemahan tes essay adalah:
a.       Pemberian skor terhadap jawaban tes essay kurang reliabel terutama disebabkan karena tidak hanya satu jawaban yang biasa diterima. Di samping itu juga disebabkan tingkat kebenaran jawaban tersebut sangat bervariasi.
b.      Tes essay menghendaki jawaban-jawaban yang relatif panjang. Karena itu dibutuhkan waktu yang lebih lama pula untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan, sehingga dalam satu periode tes hanya dapat diberikan beberapa item tes saja.
c.       Materi yang diberikan di dalam tes tidak dapat mencakup secara luas materi pelajaran yang telah disampaikan, sehingga sangat dimungkinkan hasil yang dicapai bersifat kebetulan, karena pertanyaan yang diberikan secara kebetulan sesuai dengan bagian materi yang dipelajarinya.
d.      Mengoreksi tes essay memerlukan waktu yang cukup lama, serta menghabiskan energi yang cukup banyak terlebih lagi bilamana peserta tes jumlahnya cukup besar, karena setiap jawaban harus dibaca satu persatu secara teliti. Untuk mengurangi beberapa kelemahan pada tes essay di atas, perlu diperhatikan beberapa saran berikut:
a)      Materi pelajaran yang akan diukur melalui tes essay perlu diperiksa terlebih dahulu. Bagian yang akan diukur melalui tes essay hendaknya hanya bagian-bagian yang kurang cocok jika diukur dengan tes obyekif.
b)      Item-item tes essay hendaknya dibuat dengan jelas sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan siswa.
Pentingnya pemahaman tentang tes sebagai salah satu teknik pengumpulan data digambarkan dalam contoh pengambilan data dengan Skala Inteligensi Stanford-Binet sebagaimana dipaparkan (Arikunto, 1998), kasus di mana ada enam orang wanita dan enam orang pria melaksanakan tes Stanford Binet terhadap sampel anak-anak usia 4 tahun. Hasil tes menunjukkan anak-anak yang dites oleh wanita mencapai IQ yang lebih tinggi (89,61) dibandingkan dengan anak-anak yang dites oleh pria (83,16), suatu perbedaan yang cukup signifikan. Contoh tersebut mengilustrasikan kepada kita bahwa hasil pengetesan tidak secara murni dapat menggambarkan IQ, akan tetapi juga dapat dipengaruhi oleh tester. Karena itu dalam pelaksanaan tes seperti itu menurut Arikunto (1998), perlu diadakan latihan bagi tester agar dapat mengurangi pengaruh yang tidak diinginkan yang dapat merugikan orang-orang yang mengikuti tes tersebut. Untuk meningkatkan obyektivitas hasil tes ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
a.         Memberi kesempatan berlatih kepada tester (orang yang melaksanakan tes).
b.        Menggunakan tester lebih dari satu orang, kemudian hasilnya dibandingkan.
c.         Melengkapi instrumen tes dengan manualatau pedoman pelaksanaan selengkap dan sejelas mungkin.
d.        Menciptakan situasi tes sedemikian rupasehingga membantu tester (orang yang mengerjakan tes) tidak mudah terganggu oleh lingkungan.
e.         Memilih situasi tes sebaik-baiknya, misalnya bukan malam Minggu, bukan dalam keadaan udara yang sangat panas, bukan sehabis liburan panjang, menjelang ujian, dan sebagainya.
f.         Perlu menciptakan kerjasama yang baik dan rasa saling percaya antara tester yang satu dengan tester lainnya.
g.        Menentukan waktu untuk mengerjakan tes secara tepat, baik ketepatan pelaksanaan maupun lamanya.
h.        Memperoleh izin dari atasan jika tes tersebut dilaksanakan di sekolah atau di kantor-kantor
C.    Penggunaan Teknik-teknik Non Tes untuk Pengumpulan Data PTK
a.      Pengamatan atau Observasi
Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya sudah ditekankan bahwa pelaksanaan tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi dan interpretasi, sehingga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan observasi/interpretasi berlangsung secara simultan. Artinya, data yang diamati tersebut langsung diinterpretasikan, tidak sekedar direkam. Misalnya, jika seorang siswa berhasil mengerjakan sesuatu dengan baik, kemudian guru memberi pujian kepada siswa tersebut, yang direkam bukan hanya jenis pujian yang diberikan tetapi juga dampaknya bagi siswa yang mendapat pujian. Dampak ini dapat diinterpretasikan dari sikap dan partisipasi siswa dalam pembelajaran setelah mendapat pujian. Dengan cara ini, guru sebagai aktor utama dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian, sehingga komitmennya sebagai pengajar tidak terganggu oleh metode penelitian yang sedang diterapkan. Misalnya, jika ternyata pujian yang diberikan membuat siswa menjadi bahan ejekan, guru akan mengubah cara memberi penguatan. Namun, perlu dicatat, tidak semua data memerlukan interpretasi. Ada hasil pengamatan yang hanya merupakan rekaman faktual tanpa memerlukan interpretasi, sehingga pengamat cukup hanya merekam apa yang dilihat tanpa perlu memberi makna kepada hasil rekaman. Misalnya, sebagaimana yang dirujuk oleh Joni (1998), pengamatan ala Flanders yang hanya merekam data dalam tiga kategori yaitu: pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi (tanpa pembicaraan), tidak memerlukan interpretasi pada saat rekaman dilakukan. Inilah yang dinamakan “lowinference observation”, sedangkan pengamatan yang mempersyaratkan interpretasi atau penafsiran ketika merekam data disebut sebagai “high-inference observation”.
Pelaksanaan observasi sebagai alat pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan didalam persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman data. Artinya, apa yang harus direkam dan bagaimana merekamnya melalui observasi tersebut harus ditentukan secara jelas. Misalnya pada PTK yang dilaksanakan guru, data yang dikumpulkan adalah berkenaan dengan partisipasi siswa di dalam kegiatan diskusi kelompok, maka terlebih dahulu guru menentukan cara merekam data, apakah akan menggunakan format observasi atau menggunakan catatan lapangan. Sesuai dengan hakekat PTK dan mengacu kepada peran guru sebagai aktor utama dalam PTK, idealnya observasi tersebut dilakukan oleh guru sendiri. Namun, jika observasi atau perekaman data tersebut terlalu menyita waktu guru dan mengakibatkan konsentrasi guru dalam mengajar terganggu, maka guru dapat menggunakan bantuan alat perekam atau meminta teman sejawat untuk membantu mengumpulkan data melalui observasi.
1.    Prinsip dan Jenis Observasi
Secara sederhana, observasi dapat diartikan sebagai prosedur sistematis dan baku untuk memperoleh data (Kerlinger, 1993). Dalam pembahasan Cartwright and Cartwright (1998: 3), observasi merupakan proses pengamatan secara sistematis dengan melakukan perekaman terhadap perilaku tertentu untuk tujuan pembuatan keputusan-keputusan pengajaran. Terkait dengan proses pembelajaran dan pelaksanaan observasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru:
a.    Guru harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan didalam pencapaian tujuan pembelajaran.
b.    Guru harus memutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran.
c.    Guru harus memutuskan bagaimana prosedur atau metode melaksanakan pembelajaran.
d.   Guru perlu memutuskan bahan yang dipergunakan dan bagaimana menyajikannya kepada siswa.
e.    Guru harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di kelas.
f.     Guru harus memutuskan cara mengorganisasikan waktu yang tersedia di dalam kegiatan pembelajaran.
g.    Guru harus memutuskan cara mengelompokkan siswa di dalam proses pembelajaran.
h.    Guru harus memutuskan cara menciptakan lingkungan kelas dengan baik.
i.      Guru harus menentukan kapan dan bilamana diperlukan resourcher person untuk mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran.
Observasi yang baik mempunyai prinsip dasar atau karakteristik yang harus diperhatikan, baik oleh pengamat maupun yang diamati. Hopkins (1993) menyebutkan ada lima prinsip dasar atau karakteristik kunci observasi, yang secara singkat dapat dideskripsikan seperti berikut ini.
a.    Perencanaan Bersama
Perencanaan bersama adalah upaya membangun kesepakatan bersama antara guru yang melaksanakan tindakan dengan pengamat yang membantu proses pengamatan selama kegiatan pembelajaran dilakukan. Perencanaan bersama ini dilakukan terutama jika guru yang melaksanakan PTK membutuhkan bantuan orang lain, misalnya rekan-rekan sejawat yang akan membantu mengamati proses pembelajaran yang dilakukannya. Perencanaan bersama ini bertujuan untuk membangun rasa saling percaya dan menyepakati beberapa hal seperti fokus yang akan diamati, pelajaran yang akan berlangsung, serta aturan lain seperti berapa lama pengamatan akan berlangsung, bagaimana sikap pengamat kepada siswa, dan dimana pengamat akan duduk.
b.      Fokus
Fokus pengamatan merupakan aspek-aspek pokok yang menjadi sasaran utama pengamatan. Fokus pengamatan mungkin sangat luas atau umum, tetapi dapat pula sangat khusus atau spesifik. Fokus yang luas membutuhkan pertimbangan dan penafsiran yang lebih mendalam serta subyektivitas akan sulit dihindari. Di dalam menentukan aspek yang diamati, hal yang harus diingat peneliti adalah, semakin banyak objek yang diamati, akan semakin sulit, dan hasilnya akan semakin tidak teliti (Arikunto, 1998: 135). Karenanya diupayakan agar fokus tidak terlalu luas, karena fokus yang terlalu luas disamping sulit diamati, juga kurang bermanfaat bagi guru yang diamati. Sebaliknya, fokus yang sempit atau spesifik akan menghasilkan data yang sangat bermanfaat sebagai data dan informasi bagi guru yang melaksanakan PTK.
c.    Membangun Kriteria
Kriteria observasi adalah patokan yang ditetapkan untuk melihat tingkat keberhasilan observasi. Observasi akan sangat membantu guru, jika kriteria keberhasilan atau sasaran yang ingin dicapai sudah disepakati sebelumnya. Dengan kriteria seperti ini, pengamat dapat merekam data yang relevan secara cermat sesuai dengan aspek-aspek yang dikaji. Karena itu kesepakatan bersama tentang kriteria yang menjadi patokan ini merupakan bagian penting untuk mendukung terkumpulnya data yang diinginkan bersama antara pengamat dan guru yang melaksanakan PTK.
d.   Keterampilan Observasi
Seorang pengamat yang baik memiliki tiga keterampilan, yaitu: (1) dapat menahan diri untuk tidak terlalu cepat memutuskan dalam menginterpretasikan suatu peristiwa; (2) dapat menciptakan suasana yang memberi dukungan dan menghindari terjadinya suasana yang dapat mengganggu iklim kelas, dan (3) menguasai berbagai teknik untuk menemukan peristiwa atau interaksi yang tepat untuk direkam, serta alat / instrumen perekam yang efektif untuk episode tertentu. Cartwright dan Cartwright (1998: 46) mengemukakan beberapa pertanyaan yang mengarahkan pada jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan observasi yang dilakukan, yaitu:
·         Siapa yang merancang observasi.
·         Siapa atau apa yang akan diamati. Pertanyaan ini berkenaan dengan pemahaman terhadap sasaran observasi, misalnya perilaku siswa, perilaku  guru dalam mengajar, cara-cara menggunakan alat bantu pembelajaran, dan seterusnya.
·         Dimana observasi dilakukan. Hal ini berkaitan dengan keharusan untuk memahami kondisi atau lingkungan tempat pelaksanaan kegiatan yang ingin diobservasi.
·         Kapan waktu pelaksanaan observasi. Hal ini mengingatkan akan pentingnya kesesuaian waktu pelaksanaan dengan waktu pengamatan serta pemahaman tentang tahap-tahap kegiatan yang akan diamati.
·         Bagaimana data dari kegiatan observasi itu akan direkam. Pertanyaan ini berkenaan dengan keharusan pengamat untuk terampil memilih dan menggunakan cara pengumpulan atau perekaman data.
e.    Balikan (Feedback)
Observasi yang dilakukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, mungkin balikan ini dapat segera dilakukan guru setelah melaksanakan tindakan atau proses pembelajaran. Sedangkan untuk kegiatan observasi yang dilakukan oleh pengamat, bukan langsung oleh guru sendiri yang melaksanakan PTK, balikan hasil observasi dapat dimanfaatkan jika ada balikan yang tepat yang disajikan dengan memperhatikan secara cermat setiap langkah yang dilakukan. Perlu juga dipahami, bahwa observasi dilihat dari pelaksanaannya dapat dipahami dalam beberapa bentuk. Wardani (2004) mengemukakan beberapa bentuk observasi sebagai berikut.
1.      Observasi Terbuka
Ciri yang dapat dilihat dari bentuk observasi terbuka adalah dimana pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan teknik-teknik tertentu untuk merekam fenomena-fenomena yang diselidiki. Jika ada seseorang yang melakukan pengamatan terhadap aktivitas Anda ketika mengajar di kelas, Anda dapat perhatikan. apakah pengamat tersebut menggunakan lembar observasi atau tidak dalam proses pencatatan yang dilakukannya. Jika tidak, maka pengamatan yang dilakukan terhadap Anda dapat dikategorikan sebagai observasi terbuka. Pengamat mengamati aktivitas dan kelas Anda kemudian membuat catatan pada kertas kosong tentang jalan pelajaran yang berlangsung.
2.      Observasi Terfokus
Berbeda halnya dengan observasi terbuka, observasi terfokus secara khusus ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran. Misalnya, mengamati kemampuan siswa bekerjasama dalam kegiatan diskusi, kemampuan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kemampuan melakukan gerakan-gerakan tertentu dalam latihan tari. Fokus yang telah ditetapkan dalam kegiatan observasi menjadi petunjuk atau memberikan arah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
3.      Observasi Terstruktur
Berbeda dengan observasi terbuka hanya menggunakan kertas kosong sebagai alat perekam data, observasi terstruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (v) pada tempat yang disediakan. Misalnya, yang direkam adalah frekuensi penguatan yang diberikan, atau jumlah pertanyaan yang diajukan, atau jumlah siswa yang menjawab secara sukarela, atau jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan. Pengamat hanya tinggal memberi tanda (v) setiap kali peristiwa itu muncul.

4.      Observasi Sistematik
Observasi sistematik lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori data yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Contoh lain yang sudah dikenal amat luas adalah kategori pengamatan dari Flanders yang membagi data pengamatan menjadi tiga kategori, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan siswa, dan sepi atau senyap.
Jenis observasi juga dapat dilihat dari intensitas peran observer didalam pelaksanaan observasi. McMillan & Schumecher (2000: 41), mengemukakan ketika guru melakukan pengumpulan data dan mendokumentasikan temuan-temuan penelitiannya secara sungguh-sungguh, kemudian ia menjelaskan dan menyimpulkan maka ia telah melakukan observasi partisipan. Masing-masing jenis observasi tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan. Anda dapat mengkajinya secara cermat. Kerlinger (1986) mengingatkan bahwa masalah pokok dalam pengamatan perilaku adalah si pengamat sendiri karena ia merupakan bagian dari instrumen pengukur. Dalam pengamatan perilaku, pengamat merupakan kekuatan penentu akan tetapi juga merupakan kelemahan penentu. Karena itu pengamat harus dapat mencerna informasi yang didapatkan dari observasi kemudian membuat inferensi mengenai konstruk-konstruk. Coba Anda diskusikan kembali bentuk-bentuk observasi di atas, kemudian kaji dari sudut kemampuan Anda dan kondisi sekolah tempat Anda mengajar untuk menemukan jenis observasi mana saja yang mungkin Anda pergunakan.

2.      Tujuan / Sasaran Observasi
Milss (2000), menjelaskan bahwa observasi bertujuan mengamati aktivitas siswa, aspek-aspek fisik dari suatu situasi tertentu sebagai sumber informasi yang dapat memperkaya informasi-informasi yang lain. Observasi juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu. Dalam penelitian formal, observasi bertujuan mengumpulkan data yang valid dan variabel (sahih dan handal). Data ini kemudian akan diolah untuk menjawab berbagai pertanyaan penelitian atau menguji hipotesis. Dalam PTK, observasi terutama ditujukan untuk memantau proses dan dampak perbaikan yang direncanakan. Oleh karena itu, yang menjadi sasaran observasi dalam PTK adalah proses dan hasil atau dampak pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan perbaikan. Proses dan dampak yang teramati diinterpretasikan, selanjutnya digunakan untuk menata kembali langkah-langkah perbaikan.
3.      Prosedur Observasi
Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah observasi terdiri dari tiga tahap, yaitu: pertemuan pendahuluan, observasi, dan diskusi balikan. Ketiga tahap ini sering disebut sebagai siklus pengamatan, yang populer dipakai dalam supervisi klinis, baik dalam pembimbing calon guru maupun dalam memberikan bantuan profesional bagi guru yang sudah bertugas. Siklus ini dapat digambarkan sebagai berikut. Mari kita kaji langkah-langkah tersebut satu persatu.
a)      Pertemuan Pendahuluan
Pertemuan pendahuluan yang sering disebut sebagai pertemuan perencanaan dilakukan sebelum observasi berlangsung. Tujuan pertemuan ini adalah untuk menyepakati berbagai hal yang berkaitan dengan pelajaran yang akan diamati dan observasi yang akan dilakukan, sebagaimana yang telah Anda kaji pada prinsip pertama observasi. Langkah-langkah dan konteks pembelajaran, fokus observasi, kriteria observasi, lama pengamatan, cara pengamatan, dan sebagainya dapat disepakati pada pertemuan pendahuluan ini. Fokus observasi misalnya siswa yang memberi respon secara sukarela, siswa yang mendapat penguatan, atau jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru, sedangkan contoh kriteria observasi adalah: peningkatan sumber belajar yang dipakai siswa, peningkatan jumlah pertanyaan yang diajukan siswa, peningkatan rasa puas pada diri siswa, dan peningkatan jumlah siswa yang menjawab dengan benar.
b)     Pelaksanaan Observasi
Sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan pendahuluan, observasi dilakukan terhadap proses dan hasil tindakan perbaikan, yang tentu saja terfokus pada prilaku mengajar guru, perilaku belajar siswa, dan interaksi antara guru dan siswa. Pengamat merekam/menginterpretasikan data sesuai dengan kesepakatan dan berusaha menciptakan suasana yang mendukung berlangsungnya proses perbaikan.
c)      Diskusi Balikan
Sesuai dengan prinsip pemberian balikan, pertemuan balikan dilakukan segera setelah tindakan perbaikan yang diamati berakhir. Makin cepat pertemuan ini dilakukan makin baik, dan sebaiknya diusahakan agar pertemuan ini tidak ditunda lebih dari 24 jam. Dalam pertemuan ini, guru dan pengamat berbagi informasi yang dikumpulkan selama pengamatan, mendiskusikan/ menginterpretasikan informasi tersebut, serta mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang siklus observasi tersebut, cobalah Anda simak contoh berikut ini. Anda akan dapat membayangkan situasi observasi dan hubungan antara guru dan pengamat. Agar ketiga tahap observasi ini dapat berlangsung secara efektif, Anda perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut, yang berkali-kali ditekankan oleh Hopkins (1993), Pertama, hubungan antara guru dan pengamat haruslah didasari saling percaya, sehingga pengamatan dapat berlangsung dalam iklim yang menyenangkan dan saling membantu. Kedua, fokus kegiatan pengamatan haruslah pada usaha perbaikan pembelajaran dan mendorong keberhasilan strategi yang diterapkan, bukan pada kegagalan atau kritik terhadap kepribadian/perilaku guru yang dianggap tidak sesuai. Ketiga, proses didasarkan pada pengumpulan dan pemanfaatan data observasi, bukan pada keputusan atau pertimbangan yang tidak terkait dengan sasaran observasi. Keempat, guru hendaknya didorong untuk menarik kesimpulan tentang pembelajaran yang dikelolanya dari data yang dikumpulkan dan jika perlu membuat hipotesis yang dapat diuji pada pembelajaran yang akan datang. Keempat, setiap tahap dari tiga tahap ini merupakan proses yang berlanjut dan yang satu selalu bertumpu pada yang lain. Terakhir, guru dan pengamat bersamasama terlibat dalam proses pertumbuhan profesional yang saling menguntungkan. Kemampuan mengajar dan keterampilan mengobservasi akan meningkat dengan melaksanakan ketiga tahap observasi secara benar.
b.      Wawancara
Untuk memperoleh data yang diperlukan atau data pendukung PTK, selain menggunakan observasi guru juga dapat melakukan wawancara, baik kepada siswa, rekan-rekan guru, staf sekolah lain atau mungkin kepada orang tua siswa. Secara sederhana, wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu (Moleong, 1991). Wawancara mungkin merupakan alat yang paling purba dan paling sering digunakan manusia untuk memperoleh informasi (Kerlinger, 1993). Wawancara memiliki sifat-sifat penting yang tidak dipunyai oleh tes-tes pada skala obyektif dan pengamatan behavioral. Apabila digunakan dengan menggunakan rencana yang tersusun baik, maka wawancara dapat menghasilkan banyak informasi yang bersifat fleksibel dan dapat diadaptasi untuk situasi-situasi individual, serta seringkali dipergunakan bilamana tidak ada metode lain yang dimungkinkan atau memadai. Wawancara dapat dipergunakan untuk tiga maksud utama. Pertama, wawancara dapat dipergunakan sebagai alat eksplorasi untuk identifikasi varibel dan relasi, mengajukan hipotesis, dan memandu tahap-tahap lain di dalam penelitian. Kedua, wawancara dapat menjadi instrumen utama penelitian. Dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek yang diteliti dimasukkan ke dalam panduan wawancara dalam keadaan ini, pertanyaan-pertanyaan harus dipandang sebagai butir-butir (item soal) dalam suatu instrumen penelitian, bukan sekedar sebagai sarana menghimpun informasi belaka. Ketiga, wawancara itu dapat digunakan sebagai penopang atau pelengkap metode lain. Dalam keadaan ini wawancara dapat berfungsi untuk menggali lebih mendalam motivasi responden serta alasan-alasan responden memberikan jawaban dengan cara-cara tertentu. Di dalam penelitian kualitatif, wawancara (interview) oleh banyak kepustakaan dikemukakan di dalam berbagai terminologi, misalnya disebut intensive interviewing, indepth interviewing, ataupun instructured interviewing, yang berarti suatu percakapan yang terarah dengan tujuan mengumpulkan atau memperkaya informasi atau bahan-bahan (data) yang mendetil (kaya atau padat), yang hasil akhirnya untuk digunakan untuk analisis kualitatif (Mantja, 1993; McMillan & Schumacher, 2001). Perbedaan dengan wawancara terstruktur yang bertujuan untuk memperoleh pilihan di antara berbagai alternatif jawaban terhadap pertanyaan yang ditampilkan dari sebuah topik atau situasi, adalah bahwa wawancara mendalam, mendetil atau intensif berupaya menemukan pengalaman-pengalaman informan atau responden dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Dalam pandangan Lofland and Lofland (1983), bahwa bagian terbesar dari data observasi peran serta pada dasarnya diperoleh melalui wawancara informal dan yang disempurnakan melalui observasi. Karena itu pengamatan peran serta dan wawancara mendalam merupakan teknik sentral dalam penelitian kualitatif. Oleh karena itu keduanya harus dipandang dari penekanan penggunaannya dengan memperhatikan saling keterkaitannya.
1.      Bentuk-bentuk Wawancara
Ada beberapa bentuk wawancara yang sering dipergunakan di dalam pengumpulan data penelitian. Patton (1987) mengemukakan beberapa bentuk wawancara, yaitu; (a) wawancara pembicaraan formal, (b) pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara, dan (c) wawancara baku terbuka.
a.      Wawancara pembicaraan informal
Ciri khusus dari wawancara jenis ini adalah dimana pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bergantung pada pewawancara itu sendiri, atau tergantung dari spontanitasnya didalam mengajukan pertanyaan. Wawancara ini dilakukan secara alami, sehingga hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai terjadi didalam suasana yang wajar atau tidak dirancang atau dipersiapkan secara khsusus. Dalam proses wawancara, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang disampaikan sebagaimana layaknya pembicaraan biasa yang dilakukan dalam pembicaraan sehari-hari. Bahkan mungkin ketika wawancara dilakukan orang yang diwawancarai tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa dirinya sedang diwawancarai. Meskipun situasi berlangsung secara wajar dan alami, namun pewawancara tetap melakukan aktivitas pokok sebagai pewawacara yaitu melakukan pencatatan atau perekaman data. Karena itu diperlukan keterampilan yang memadai dan spesifik baik di dalam mengajukan item-item pertanyaan maupun didalam menciptakan situasi yang wajar dan alami tersebut.
b.      Pendekatan dengan menggunakan petunjuk umum wawancara
Jika wawancara pembicaraan informal tidak memerlukan panduan khusus dan spesifik tentang aspek-aspek yang ingin diwawancarai, berbeda dengan teknik pewawancara yang kedua ini justeru mempersyaratkan agar pewawancara membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang ditanyakan dalam proses wawancara. Penyusunan pokok-pokok wawancara harus dipersiapkan terlebih dahulu oleh pewawancara sebelum wawancara dilakukan. Petunjuk umum wawancara tidak harus selalu dibuat secara rinci, akan tetapi cukup memuat garis-garis besar aspek yang ingin ditanyakan. Petunjuk yang didasarkan pada anggapan bahwa ada jawaban yang secara umum akan sama diberikan oleh para responden, tetapi yang jelas tidak ada perangkat pertanyaan baku yang disiapkan terlebih dahulu. Pelaksanaan wawancara dan pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden. Karena itu urutan-urutan pertanyaan tidak bersifat kaku, termasuk bagian-bagian mana yang terlebih dahulu ditanyakan atau diletakkan pada akhir.
c.       Wawancara baku terbuka
Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku (Moleong, 1991: 136). Pada jenis wawancara ini, urutan pertanyaan, kata-kata yang dipergunakan didalam daftar pertanyaan, urutan penyajian disusun sama untuk semua responden yang diwawancarai. Tidak seperti bentuk pertama, kedua dan ketiga sebelumnya, pada bentuk ini, pewawancara tidak terlalu memiliki keluwesan mengadakan pertanyaanpertanyaan pendalaman. Maksud dari adanya pembatasan-pembatasan di dalam wawancara ini adalah untuk mengurangi terjadinya “kemencengan” (biasa). Jenis wawancara ini tepat dilakukan apabila pewawancara terdiri dari sejumlah orang dan yang diwawancarai cukup banyak jumlahnya, sehingga hasil-hasil atau data yang diperoleh tidak terlalu banyak perbedaan.
Khusus mengenai pedoman wawancara (Arikunto, 1998: 231) memaparkan dua macam pedoman wawancara :
a)      Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam keadaan ini sangat diperlukan kreativitas atau apresiasi pewawancara, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman wawancara lebih banyak tergantung pada pewawancara. Itulah sebabnya Kerlinger (1993), mengingatkan bahwa satu di antara kesulitan dalam wawancara adalah pewawancaranya, karena dia merupakan bagian dari instrumen pengukur. Wawancara tak terstruktur tepat dilakukan pada keadaan-keadan berikut:
·         Bila pewawancara berhubungan dengan orang-orang penting.
·         Jika pewawancara ingin menanyakan sesuatu secara lebih mendalam lagi kepada seorang subyek tertentu.
·         Apabila pewawancara menyelenggarakan kegiatan yang bersifat “penemuan” (discovery).
·         Jika ia tertarik untuk mempersoalkan bagian-bagian tertentu yang tidak umum.
·         Jika ia tertarik untuk mengadakan hubungan langsung dengan responden.
·         Apabila ia tertarik untuk mengungkapkan motivasi, maksud, atau penjelasan dari responden.
·         Apabila ia mau mencoba mengungkapkan pengertian suatu peristiwa, situasi, atau keadaan tertentu.
b)      Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun  secara rinci sehingga peluang untuk mengadakan variasi atau improvisasi  dalam pelaksanaan wawancara menjadi sangat terbatas. Ada beberapa jenis pertanyaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam  mengembangkan pertanyaan yang lazim dipergunakan dalam wawancara :
a.       Pertanyaan deskriptif (descriptive question), yaitu bentuk pertanyaan di mana  pewawacara meminta responden untuk mendeskripsikan sesuatu. Misalnya,  “Dapatkah Anda menceriterakan pertemuan yang baru Anda ikuti!”.
b.      Pertanyaan structural (structural question), adalah pertanyaan yang diarahkan  untuk membantu peneliti bagaimana informan mengorganisasikan  pengetahuannya. Misalnya: “Cara apa saja yang Anda gunakan untuk  menyampaikan materi pelajaran?”.
c.       Pertanyaan pembeda atau mempertentangkan (contras question), adalah  pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui makna sesuatu yang dikemukakan  oleh informan terhadap berbagai terminologi di dalam bahasa penutur.  Pertanyaan jenis ini menghendaki informan membedakan obyek dan peristiwa  menurut pengalaman mereka, sehingga peneliti memperoleh wawasan dimensi  makna yang digunakan informan untuk membedakannya. Pertanyaan ini  misalnya: “Apakah perbedaan belajar anak cacat, anak normal dan anak luar  biasa .
d.      Pertanyaan bergiliran (asymetrical turn talking), di mana informan dan  pewawacara bergiliran didalam berbicara. Dalam bentuk ini pertama  pewawancara menguraikan semua pertanyaannya terlebih dahulu, kemudian informan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut atau mengungkapkan  sebagian besar pengalaman-pengalamannya.
e.       Perluasan daripada penyingkatan (expansion rather than abbreviation), di mana  peneliti mendorong informan untuk memperluas (memperjelas) apa yang  dikemukakannya untuk menghindari kurang rincinya topik yang diperoleh.  Dalam proses wawancara ini peneliti sering mengingatkan informan agar tidak  dilakukan secara singkat dan terburu-buru untuk mempercepat waktu penelitian.
f.       Mengajukan pertanyaan bersahabat (asking friendly question). Selama proses  wawancara antara peneliti dan informan berlangsung, pertanyaan-pertanyaan  yang diajukan didalam wawancara selalu diarahkan dalam rangka membangun  hubungan yang akrab, saling menghargai dan penuh kehangatan (rapport),  sehingga informan tidak lekas merasa jenuh apalagi merasa terbebani dengan  pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti.
g.      Berhenti sejenak (pausing). Dalam kenyataan di lapangan seringkali peneliti  merasa khawatir bilamana aspek-aspek yang telah dirancang untuk ditanyakan  tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena terbatasnya waktu yang tersedia.  Akhirnya tanpa disadari peneliti terus mengejar informan dengan pertanyaan pertanyaan sehingga suasana wawancara menjadi kurang kondusif. Sebaiknya  pewawancara harus berhenti beberapa saat agar suasana keakraban dan  rapport  yang telah terbina terpelihara dengan baik.

2.      Melaksanakan Wawancara
Di dalam pengumpulan data melalui wawancara, ada dua kegiatan yang sangat  mendasar dan saling terkait, yaitu mengembangkan hubungan baik (rapport) dan  mengejar perolehan informasi. Keduanya penting dan menuntut perhatian khusus  peneliti. Dalam pengumpulan data, jangan sampai terjadi kegiatan yang satu  mengorbankan kegiatan aspek lain.    Oleh sebab itu secara  garis besarnya ada tiga kegiatan yang  berkaitan dengan pelaksanaan wawancara, yaitu: (1) memulai wawancara, (2) mengajukan pertanyaan pokok sekaligus perekaman data, dan (3) mengakhiri wawancara.
1.      Memulai wawancara 
Jika Anda akan melakukan wawancara, sebaiknya terlebih dahulu Anda  meluangkan waktu sejenak untuk mengkaji kembali pedoman atau panduan  wawancara yang telah dipersiapkan. Kegiatan ini bertujuan agar ketika wawancara  telah mulai Anda laksanakan, Anda dapat menanyakan butir-butir pertanyaan dengan  lancar tanpa harus melihat berulang-ulang panduan tersebut, karena hal itu   dapat mengganggu kelancaran wawancara yang Anda lakukan 
Hal lain yang perlu Anda perhatikan kembali adalah kesiapan alat-alat yang akan  dipergunakan didalam mendukung kelancaran wawancara, seperti buku catatan, alat- alat tulis, alat perekam data lainnya jika hal itu diperlukan.
Ketika mengawali wawancara, hal penting yang Anda lakukan adalah  membina hubungan baik, saling menghargai dan saling percaya, sebagaimana sekilas telah kita bahas sebelumnya. Rapport tidak harus diartikan sebagai hubungan yang sangat rapat.  Baik peneliti maupun informan adalah partisipan penelitian yang harus memiliki rasa saling percaya yang besar agar terjadi arus informasi yang lebih lancar dalam proses pengumpulan data. Pada tahap awal wawancara ini Anda dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong terciptanya keakraban, keterbukaan dan suasana yang tidak formal. Jika hal ini telah Anda lakukan, kemudian Anda melihat bahwa suasana telah mendukung untuk dimulainya wawancara, Anda dapat memulainya dari pertanyaan-pertanyaan yang sederhana.
2.      Mengajukan pertanyaan 
`              Dalam kaitan dengan butir pertanyaan yang diajukan, Kerlinger (1993):
a.       Apakah pertanyaan yang akan Anda ajukan berkaitan dengan masalah penelitian dan sasaran-sasaran penelitian?  Selain  pertanyaan-pertanyaan yang diajukandiarahkan untuk memperoleh informasi faktual, semua butir di dalam panduan wawancara Anda harus mempunyai fungsi tertentu dalam masalah penelitiannya. Hal ini juga berarti bahwa semua butir pertanyaan yang terdapat di dalam panduan wawancara Anda adalah untuk menggali informasi yang dapat dipergunakan untuk menjawab masalah penelitian dan atau menguji hipotesis.
b.      Tepatkah tipe pertanyaan yang akan Anda ajukan?   Jika Anda menggunakan bentuk-bentuk pertanyaan terbuka, mungkin Anda akan mendapatkan informasi tentang sikap, perilaku, atau tentang pandangan informan Anda tentang sesuatu secara lebih rinci.
c.       Apakah butir pertanyaan jelas dan tidak mengundang penafsiran ganda?  Suatu pertanyaan atau butir pertanyaan yang ambigu atau ganda adalah butir pertanyaan yang tidak mengundang penafsiran yang berlainan serta jawaban yang berbeda-beda dari penafsiran yang majemuk tersebut.
d.      Apakah butir pertanyaan yang Anda rumuskan menggiring informan untuk memberikan alternatif  jawaban tertentu? Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja menggiring informan untuk memberikan jawaban tertentu yang Anda inginkan, hal itu merupakan ancaman terhadap validitas wawancara Anda. Contoh: “Apakah Anda telah membaca catatan-catatan yang saya tulis?” Atau “Apakah Anda telah menyusun langkah-langkah kegiatan sesuai dengan prosedur yang  sudah kita bahas?” Mungkin Anda akan mendapatkan sebagian besar informan  Anda menjawab “Ya” yang kemungkinan besar tidak proporsional, karena  pertanyaan tersebut menyiratkan tidak baik jika informan belum membaca  catatan yang ia buat seperti contoh pertanyaan pertama, atau tidak menyusun  langkah-langkah kegiatan sesuai prosedur yang telah dibahas bersama seperti pada contoh pertanyaan kedua.
e.       Apakah pertanyaan yang Anda susun menuntut pengetahuan dan informasi yang  tidak dimiliki oleh responden? Untuk menjaga agar tidak ada butir pertanyaan  yang tidak valid, karena kurangnya pengetahuan informan tentang masalah yang  ditanyakan, maka akan lebih baik bilamana pewawancara menggunakan  pertanyaan-pertanyaan saringan. Misalnya ketika informan bermaksud  menanyakan pendapat informan tentang Peraturan Pemerintah berkenaan dengan  Standar Nasional Pendidikan, akan lebih baik jika diajukan pertanyaan apakah  informan mengetahui tentang peraturan pemerintah dimaksud. Ada kemungkinan  pewawancara menjelaskan terlebih dahulu secara singkat tentang hal yang  ditanyakan tersebut, baru kemudian menanyakan pendapat responden?
f.       Apakah pertanyaan yang Anda susun menuntut hal-hal yang bersifat pribadi dan  peka sehingga informan Anda menolak menjawabnya? Jika pertanyaan  menyentuh hal-hal tersebut, maka Anda harus lebih selektif dan berhati-hati.  Pertanyaan-pertanyaan tentang penghasilan atau hal-hal lain yang bersifat pribadi  hendaknya diletakkan pada bagian belakang dalam wawancara, yaitu setelah  tercapainya hubungan baik dan keakraban (rapport) antara pewawancara dan  informan.
g.      Apakah pertanyaan yang Anda ajukan menyiratkan hal-hal yang dianggap baik  atau buruk oleh masyarakat? Pada umumnya orang-orang cenderung  memberikan jawaban sesuai dengan yang dipandang baik oleh umum, jawaban- jawaban yang menunjukkan atau menyiratkan kesetujuan pada tindakan-tindakan  atau ikhwal yang dipandang baik. Misalnya kita menanyakan kepada seseorang mengenai perasaannya terhadap anak-anak terlantar. Setiap orang diharapkan  memiliki simpati terhadap anak-anak terlantar. Jika kita tidak berhati-hati kita  hanya akan mendapatkan jawaban stereotip atau klise tentang perasaannya terhadap anak-anak terlantar tersebut. 

3.      Menutup wawancara
Jika wawancara telah selesai Anda lakukan, Anda harus menahan diri  beberapa saat untuk tidak meninggalkan informan. Hubungan akrab, saling percaya  yang telah Anda bina sejak awal dilakukan wawancara, hendaknya  dapat Anda  pertahankan sampai wawancara benar-benar berakhir. Informan Anda harus  merasakan kepuasan yang Anda rasakan. Jika Anda merasa ada bagian-bagian  tertentu dari pertanyaan Anda belum dijawab secara tuntas, tidak selayaknya Anda  menunjukkan sikap ketidakpuasan Anda dihadapan informan, karena bilamana Anda telah membina hubungan baik, Anda dapat meminta kesediaan informan untuk  memberikan informasi melalui wawancara selanjutnya. Ucapkan terima kasih dengan  sikap tulus dan hangat bilamana informasi yang diberikan informan Anda telah  dirasa cukup. Kemukakan secara terbuka bahwa informasi yang disampaikannya  benar-benar bermakna bagi penelitian yang Anda lakukan.

2.TINDAKAN
Pada saat guru melakukan tindakan ini, guru harus benar-benar memahami terlebih dahulu karakter siswa sehingga jangan sampai siswa menjadi objek tindakan, namun guru harus mengambil peran pemberdayaan siswa sehingga siswa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan kelas.
Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
1.Pendahuluan
   Pada bagian pendahuluan ini guru memberikan apersepsi pembelajaran. Tujuan apersepsi adalah untuk mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran dengan baik.
2.Kegiatan inti
   Pada kegiatan inti ini, guru menyampaikan materi. Melalui kegiatan ini , siswa dilatih untuk menyimpulkan permasalahan yang ditemukan dibantu oleh guru.
3.Penutup
   Melalui kegiatan ini dapat diketahui kesulitan-kesulitan yang siswa hadapi. Guru selalu memberikan dorongan dan motivasi pada siswa untuk terus belajar.
4.Pengamatan
   Yang dimaksud pengamatan adalah proses pengambilan data dari pelaksanaan tindakan atau kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret sejauh mana efek tindakan telah mencapai sasaran.

3. REFLEKSI
Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada: siswa, guru, dan suasana kelas. Pada tahap ini, guru sebagai peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why), bagaimana (how), dan sejauh mana (to what extent) intervensi ini telah menghasilkan perubahan secara signifikan. Kolaborasi dengan rekan (termasuk para ahli) akan memainkan peran sentral dalam memutuskan judging the value (seberapa jauh action telah membawa perubahan: apa/dimana perubahan terjadi, mengapa demikian, apa kelebihan/kekurangan, langkah-langkah penyempurnaan, dsb.) Mc Taggart (dalam Connle, 1993) menggarisbawahi bahwa salah satu kriteria action research adalah:
... partisipatory action research is concerned simultaneously with changing individuals, on the on hand, and the other culture of the groups, institutions, and societies to which the belongs ...
Pada akhir setiap siklus Anda perlu merefleksi secara kritis mengenai hal-hal yang sudah Anda lakukan. Seberapa efektifkah perubahan tersebut? Apa yang Anda pelajari? Hal-hal apa yang menjadi penghalang perubahan? Bagaimana Anda memperbaiki perubahan-perubahan yang akan Anda buat? Jawaban atas dua pertanyaan tersebut akan membawa Anda pada putaran tindakan selanjutnya.
Untuk itulah, disarankan guru sebagai peneliti untuk selalu menulis learing logs (catatan refleksi-kritis tentang fenomena kelas setiap hari). Dari catatan-catatan itulah, peneliti akan responsif terhadap perubahan yang berkembang di kelas. Perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa dipotret (disajikan sebagai bukti), misalnya: hasil pemantauan keterampilan menceritakan pengalaman pribadi, portofolio (catatan-catatan hasil tentang hasil/prestasi siswa), perubahan sikap percaya diri antusiasme, responsif, keinginan tahu. Demikian pula perubahan-perubahan yang terjadi pada guru sebagai peneliti, seperti: peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan kelas, kepercayaan diri, kepuasan diri setelah mengajar. Suasana perubahan pada atmosfir kelas juga disajikan, seperti: suasana kelas yang mendorong pembelajaran, penampilan kelas yang menyajikan tayangan hasil anak-anak, suasana kelas yang lebih akrab, dsb.
Apa yang tejadi pada suatu siklus, apabila peneliti belum merasa puas? Alternatif pertama adalah guru (peneliti) dapat menyempurnakan intervensi sehingga pada siklus berikutnya dikembangkan dan dilakukan  perubahan-perubahan berdasarkan saran siswa ataupun berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Yang jelas, setiap siklus harus ada upaya untuk ke arah perbaikan dalam hal proses sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas. Yang penting bahwa action research berorientasi pada improvement yang sering kali jalannya berkelok-kelok.
Refleksi disini meliputi kegiatan: analisis. Sistesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan, dan menyimpulkan. Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru (peneliti) pada pertemuan selanjutnya. Dengan demikian penelitian tindakan tidak dapat dilaksanakan dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk  melakukannya sebagai planning untuk siklus selanjutnya.

Contoh refleksi yang dikutip dari karya Noeng Muhadjir (1996). Seorang guru SD merasakan bahwa interaksi yang terjadi di dalam kelas lebih didominasi guru. Ia ingin mengubah kondisi ini dengan cara mencermati rancangan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukannya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan partisipasi siswa dengan menambah alat peraga dan dialog. Dari hasil pengkajian terhadap tindakan yang telah dilakukan, ternyata partisipasi yang lemah belum Nampak. Guru merancang lagi kegiatan pembelajaran berikutnya dengan memasukan kegiatan memberikan motivasi dan pujian kepada siswa yang lemah. Hasilnya cukup mengembirakan. Anak yang lemah menjadi semakin aktif dalam proses pembelajaran. Dari kegiatan observasi diketahui diketahui bahwa pemberian motivasi dan pujian kepada siswa yang lemah menimbulkan masalah baru.Anak yang cerdas menjadi bosan karena guru banyak meladeni siswa yang lemah sehingga pelajaran berjalan dengan sangat lamban.Hal ini mendorong guru untuk melakukan refleksi untuk menganalisis dan mengevaluasi tindakan yang telah diambil. Akhirnya ia sampai kepada kesimpulan bahwa proses pembelajaran berikutnya harus diupayakan untuk melibatkan siswa yang cerdas. Tindakan yang ditempuh adalah meminta siswa yang cerdas membantu siswa yang lemah melalui kegiatan kerja kelompok. Dalam proses pembelajaran ada anak yang cerdas cukup antusias membantu teman-temannya yang lemah, tetapi ada pula anak yang cerdas lainnya tidak nampak antusias. Ternyata terdapat lagi permasalahan.Anak cerdas yang antusias ternyata ada yang sabar, ada yang otoriter dan ada lagi yang bersifat egois. Ia kerjakan kelompoknya seorang diri tanpa mengikutsertakan temannya yang lain. Sementara itu, satu anak cerdas yang tidak antusias terlihat malas dan tidak mau membantu teman-temannya. Pada kesempatan pembelajaran berikutnya. Guru menyisipkan penjelasan tentang pentingnya solidaritas antar warga masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk kerja sama dan saling membantu. Yang pandai dimisalkan sebagai mata air yang diambil terus menerus tidak habis, melainkan mata air tersebut menjadi semakin besar dan semakin jernih. Anak yang pandai jika mau membantu yang lemah menyebabkan ia menjadi semakin cermat dan mantap pemahamannya terhadap materi yang dipelajari sehingga dia justru akan semakin pandai. Ketika kerja kelompok diadakan lagi, anak yang cerdas di kelas terbeut telah berubah sehingga kerja kelompok menjadi hidup dan berubah menjadi kompetensi antar kelompok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar